Kenalkan Kitab Kuning Sejak Tingkat Awaliyah

PONDOK Pesantren Darussalam, Martapura, merupakan pondok pesantren tertua di Kabupaten Banjar.

Kenalkan Kitab Kuning Sejak Tingkat Awaliyah
BPOST GROUP/HARI WIDODO
PARA santri mengaji kitab kuning di Ponpes Darussalam, Martapura. 

PONDOK Pesantren Darussalam, Martapura, merupakan  pondok pesantren tertua di Kabupaten Banjar. Tak terhitung lulusan pondok pesantren yang berlokasi di tepian Sungai Martapura itu. Bahkan banyak ulama dan tokoh yang lahir dari pondok pesantren ini dan tersebar di penjuru Nusantara.

Suasana belajar di pondok pesantren ini sangat nyaman. Seperti pantauan Serambi UmmaH kemarin. Santri Pondok Pesantren Darussalam di kelas 3 Ulya menyimak dan mencatat terjemah isi kitab kuning, yang disampaikan guru mereka, KH Abdul Hadi Arsyad.

Memang, Pondok Pesantren Darussalam mengedepankan penyampaian ilmu-ilmu yang terdapat di dalam agama Islam dengan kitab kuning. Santri di pondok pesantren setempat, dari jenjang pendidikan tingkat Awaliyah, Wustho hingga Ulya sudah diajarkan bagaimana memahami dan membaca kitab kuning. Jangan heran, bila santri-santri Darussalam terlihat selalu membawa sejumlah kitab kuning di tangannya, baik saat berangkat maupun pulang dari pondok pesantren.

Kitab kuning, dalam pendidikan agama Islam, merujuk kepada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah) yang diajarkan pada pondok-pondok pesantren, mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (ilmu nahwu dan ilmu sharf), hadit, tafsir, ulumul quraan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu‘amalah).

Kitab kuning juga dikenal dengan kitab gundul karena memang tidak memiliki harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab Alquran pada umumnya. Oleh sebab itu, untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan waktu belajar yang relatif lama.

KH Abdul Hadi mengakui, biasanya perlu waktu 12 tahun lamanya dari sejak tingkat Ulya, Wustho hingga Ulya bisa memahami maksud isi dari sebuah kitab kuning. Itupun, santri harus benar-benar tekun untuk mempelajarinya.

Tidak cukup hanya di kelas formal, tapi santri juga harus rajin mengikuti pengajian kitab- kitab kuning yang dilaksanakan di rumah-rumah guru. Selain untuk memperdalam pemahaman isi kitab kuning, belajar dari ustadz dimaksudkan untuk menghindarkan seorang santri salah pemahaman dari isi sebuah kitab.

Meski sekarang ada terjemahan sebuah kitab kuning yang secara zohir bisa dipelajari sendiri namun itu tidak cukup menyampaikan makna hakiki dari isi sebuah kitab kuning yang dipelajari.

“Makanya, santri kami dianjurkan untuk ikut pengajian-pengajian dari guru-guru di Martapura. Cukup banyak di Martapura pengajian-pengajian kitab kuning yang dilaksanakan di rumah-rumah guru seperti di rumah Guru Zarkasi Nasri, KH Sukri Yunus dan di rumah KH Muasani.

“Di rumah saya juga ada. Santri harus rajin ikut-ikut pengajian kitab kuning dari guru-guru ini untuk mengasah kemampuannya mempelajari kitab kuning,” tambahnya.

Ponpes Darussalam memang mengedepankan pelajaran kitab kuning. Atas saran dari guru-guru beliau, saat itu hingga sekarang kitab kuning menjadi panduan utama dalam menggaliilmu-ilmu agama Islam yang berlandaskan pada Alquran dan Hadis.

Di Pondok Pesantren Darussalam, memang mengedapankan pelajaran yang bermaterikan dari kitab kuning. Anak-anak sudah sejak tingkat Ulya dikenalkan cara membaca dan memahami isi dari sebuah kitab kuning.

Kenapa di Pondok tempatnya mengajarkan kitab kuning, karena kitab kuning merupakan sumber rujukan ilmu agama Islam yang berasal dari Alquran dan Hadis Nabi yang menjadi pegangan hidup ke depan. Bagi umat yang hidup di zaman sekarang, dari kandungan kitab kuning bagaimana kita bisa menjadikan Nabi Muhaamad SAW yang merupakan uswatun hasanah menjadi ikutan umat.

“Alhamdulillah, meskipun santri-santri tidak mempelajari secara khusus pendidikan umum namun tidak sedikit santri yang justru memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih dalam pendidikan umum. Itulah, berkah dari mempelajari kitab kuning,” ungkap dia. (hari widodo - sofyar redhani)

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved