Breaking News:

Iman Kepada Takdir

: Takdir Allah yang terjadi kepada seluruh makhluk-Nya yang didahului dengan ilmu Allah dan sesuai dengan kebijaksanaan-Nya

Editor: Halmien
Iman Kepada Takdir

SERAMBI UMMAH.COM - Mengimani qadha dan qadar merupakan rukun iman yang keenam yang wajib diyakini oleh setiap orang beriman. Sebagaimana yang Rasulullah katakan dalam hadist Jibril.

Qadha yaitu : Takdir Allah yang terjadi kepada seluruh makhluk-Nya yang didahului dengan ilmu Allah dan sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Qadar adalah : Ilmu Allah tentang segala sesuatu yang Ia ketahui dan Ia tulis sebelum hal itu terjadi dan ada, kemudian menulisnya di Lauhul Mahfudz dan menciptakannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Adapun yang dimaksud iman kepada qadha dan qadhar atau beriman kepada takdir Allah adalah : Kita meyakini dan membenarkan dengan pasti bahwa segala yang terjadi itu sesuai dengan ilmu Allah dan takdir-Nya yang bersifat 'azal' (ada sejak dahulu dan selamanya), dan segalah hal yang Ia kehendaki pasti terjadi sedangkan yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi.

Dalil tentang wajibnya beriman kepada takdir Allah sangatlah banyak baik itu dari Al Quran, Hadist maupun ijma'. Diantaranya firman Allah :

"Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman" [QS Ali Imran 166]

Begitu juga ucapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam dalam hadist jibril tatkal ditanya apa itu iman :

"Hendaknya engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk." [HR Bukhari Muslim]

Maka barang siapa yang masih ragu atau mengingkari takdir Allah dapat menyebabkan ia kafir keluar dari islam.

Untuk mencapai keimanan yang sempurna dalam mengimani takdir Allah harus memahami empat tingkatan iman kepada takdir sebagai berikut :

Tingkatan pertama : Ilmu

Yaitu mengimani bahwa Allah dengan ilmu-Nya, yang merupakan Sifat-Nya yang azali dan abadi, Allah Maha mengetahui semua yang ada di langit dengan seluruh isinya, juga semua yang ada di bumi dengan seluruh isinya, serta apa yang ada di antara keduanya, baik secara global maupun secara rinci, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya. Allah berfirman :

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" [QS Al An'am : 59]

Tingkatan kedua : Kitabah (penulisan)

Yaitu mengimani bahwa Allah telah menulis semua takdir makhluk-Nya yang akan terjadi bahkan sebelum langit dan bumi diciptakan. Allah berfirman :

"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah" [QS Al Hajj : 70]

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Sesungguhnya makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah adalah Qalam (pena) lalu dikatakan kepadanya 'Tulislah !', ia berkata : apa yang aku tulis, Allah berkata : tulislah takdir setiap makluk hingga hari kiamat" [HR Abu Dawud]

"Allah telah mencatat takdir seluruh makhluknya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, dan 'Arsy-Nya berada diatas air" [HR Muslim]

Tingkatan Ketiga : Masyi'ah (kehendak)

Mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Allah, apa yang Ia kehendaki terjadi pasti akan terjadi, dan apa yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi.  Ini merupakan salah satu syarat sempurnanya iman kepada takdir.

Diantara dalil dari Al-Qur'an yang menetapkan kehendak Allah adalah firman-Nya:

"Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" [QS Ali Imran : 26]

"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus". [QS Al An'am : 39]

Tingkatan keempat : Penciptaan

Segala sesuatu yang ada di muka bumi dan di langit serta yang ada diantara keduanya adalah ciptaan Allah yang sesuai dengan takdir yang Ia tetapkan, tidak ada sekutu baginya. Allah berfirman :

"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu." [QS Az Zumar : 62]

Begitu juga dengan amalan seluruh hamba-Nya, Allah lah yang menciptakan jika dikehendaki maka akan terjadi namun jika tidak maka tak akan terjadi betapa pun usaha dan keinginan hamba tersebut untuk melakukannya. Allah berfirman :

"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu" [QS As Shaffat : 96]

Meskipun demikian Allah tetap memberikan kehendak kepada manusia untuk melakukan perbuatannya tetapi sejatinya kehendak manusia dan perbuatannya itu tergantung kehendak dan takdir Allah. Allah berfirman :

"bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (28) Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam" [QS At Takwir : 28 - 29]

Oleh karena itu meskipun Allah yang menciptakan segala sesuatu, Ia tetap memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk taat kepada-Nya, serta taat kepada Rasul-Nya, serta melarang mereka durhaka kepada-Nya. Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, berbuat baik, berlaku adil, dan meridhai orang-orang yang beriman lagi beramal shalih. Akan tetapi Allah tidak mencintai orang-orang kafir, tidak meridhai orang-orang fasiq, Allah tidak memerintahkan untuk berbuat keji, tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya dan tidak menyukai kerusakan.

Barangsiapa beriman dengan takdir Allah dan keempat tingkatannya ini maka keimanannya telah sempurna begitu juga sebaliknya jika tidak mengimani keempat tingkatan ini maka ia tidak akan dapat mengimani takdir Allah dengan sempurna bahkan ia akan tersesat dalam keimanannya. (gic)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved