Breaking News:

Ramadan, Sebuah Madrasah Tarbiyah

Alangkah beruntungnya seseorang ketika mendapatkan bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan penuh dengan kesempatan untuk meneguk segarnya beramal

Editor: Halmien
Ramadan, Sebuah Madrasah Tarbiyah

SERAMBI UMMAH.COM - Bulan Ramadan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Albaqarah: 185)

Ramadan ibarat oase di tengah teriknya mentari di atas Padang Sahara yang membakar. Alangkah beruntungnya seseorang ketika mendapatkan bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan penuh dengan kesempatan untuk meneguk segarnya beramal dan belajar. Sebab, Ramadan benar merupakan sebuah bulan yang penuh dengan berkah, penuh rahmat, ampunan, dan kasih sayang dari Allah untuk para hamba-Nya.

Salah satu keberkahannya ialah Ramadan menjadi madrasah tarbiah atau bulan pendidikan bagi umat Islam. Begitu banyak materi tarbiah yang akan tersaji di bulan Ramadan ini. Materi-materi tarbiah yang akan membentuk karakter ilmiah dan islamiyah bagi seorang muslim. Hanya, hal itu akan sekadar menjadi materi tanpa adanya kemauan azam yang kuat dari umat Islam untuk mengambil pelajaran di bulan madrasah tarbiah ini.

Syukur dan Sabar

Syukur dan sabar adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Keduanya bagaikan kumbang dan kembang selalu saling membutuhkan yang dalam kamus ilmiah dikenal dengan simbiosis mutualisme. Bahkan, beribu tahun lalu, Rasulullah telah mengungkapkan rasa takjubnya terhadap seseorang yang memiliki dua hal ini.

“Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, karena segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang mukmin. Bila ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, yang demikian itu baik baginya. Dan bila ia tertimpa kesusahan ia juga bersabar, yang demikian itupun baik baginya.” (HR. Muslim)

Mengapa seorang muslim harus bersyukur dan bersabar dengan datangnya bulan Ramadan? Pertama, tentang syukur. Ketika seseorang telah berhasil menginjakkan kakinya di bulan Ramadan maka Allah telah memilih orang tersebut di antara berbagai jiwa yang Allah tak ridhai untuk menikmati Ramadan. Cobalah tengok, berapa banyak orang di sekitar kita di Ramadan yang lalu masih ada, namun Ramadan kali ini ternyata mereka tidak ditakdirkan untuk menjadi orang pilihan yang menghiasi hari-hari dengan amalan saleh di bulan Ramadan ini. maka hendaknya, orang pilihan Allah mesti menujukkan kepada Allah bahwa ia layak untuk dipilih.

Adapun sabar bagi sebagian salaf, ia ibaratkan sebagai kuda yang tak pernah letih, pedang yang tak pernah tumpul, pasukan perang yang tak terkalahkan, dan benteng yang tak tertaklukkan. Bayangkan, bagaimana seorang muslim harus berjibaku dengan nafsunya tatkala ia sedang menjalani saum di bulan Ramadan. Maka Ramadan menjadi tempahan bagi seorang muslim untuk selalu bersabar dalam keadaannya sebagai seorang yang berpuasa, menahan lapar dan dahaga, diam dalam ucapan sia-sia bahkan dosa, tunduk dari pandangan yang tak membawa berkah, lumpuh dari melakukan hal-hal yang tak disenangi Allah, bahkan sampai pada tataran berprasangka yang hanya baik-baik saja. Bila sifat syukur dan sabar dimulai dari puasa di bulan ramadan maka dengan sendirinya Insya Allah seseorang akan bersyukur dan bersabar di dalam aspek kehidupan yang lain.

Amanah dan Jujur

Sampai kapanpun sifat amanah dan jujur adalah emas yang akan berlaku di mana saja. Tak kenal tempat, waktu, dan suasana, keduanya begitu dicari oleh siapa pun baik ia sebagai penjual ataupun pembeli. Ramadan menjadi madrasah untuk menumbuhkan kedua sifat tersebut. Bayangkan, yang mengetahui seseorang berpuasa ialah hanya Allah dan dirinya sendiri. Walaupun seorang berada dalam kesempatan untuk mencicipi makanan, namun ketika ia sadar bahwa ia telah puasa maka ia akan begitu segan memakannya. Mengapa? Karena dilihat orang ataupun tidak, ia akan tunduk berpuasa karena Allah semata. Maka, dengan sendirinya sifat amanah dan jujur dalam bingkai muraqabatullaah akan tumbuh yaitu seseorang benar-benar menyadari segala perbuatan, perkataan, dan prasangka akan terpantau oleh Allah Swt.

Halaman
123
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved